PUBLIKASI HASIL ANALISIS DATA PENGUKURAN BALITA STUNTING TINGKAT KABUPATEN LINGGA TAHUN 2021

Diposting pada

Pengukuran dan publikasi stunting adalah salah satu aksi dalam 8 (delapan) aksi intervensi penurunan stunting terintegrasi, yaitu aksi 7 (tujuh). Pengukuran dan publikasi  stunting adalah upaya kabupaten lingga untuk memperoleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan, dan desa. Hasil pengukuran tinggi badan anak usia 0-59 bulan serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan bersama penurunan stunting.

Dinas Kesehatan kabupaten Lingga sebagai penanggung jawab aksi 7 (tujuh) pengukuran dan publiksi stunting telah melakukan pengukuran stunting pada balita yaitu pengukuran terhadap tinggi badan/panjang badan pada bulan Agustus yang juga merupakan bulan penimbangan balita dan bersamaan dengan bulan pemberian vitamin a, harapannya jumlah balita yang diukur pada bulan ini adalah total coverage. Data hasil pengukuran diinput ke dalam aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) yang di entry oleh petugas gizi puskesmas, dan apabila ada data yang bermasalah gizi dikonfirmasi dan divalidasi oleh petugas puskesmas dan dinas kesehatan.

Berdasarkan rekap tahunan status gizi balita pada aplikasi ePPGBM tahun 2021 yang merupakan hasil dari pengukuran tinggi badan/panjang badan terhadap 4363 balita dari 6599 balita yang terekap sebagai sasaran di aplikasi ePPGBM pada bulan Agustus, diperoleh angka prevalensi balita stunting kabupaten Lingga sebesar 13,82%. Angka ini masih berada dalam batas aman, yakni dibawah 20%, tetapi angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi stunting pada tahun 2020 sebagaimana terlihat pada grafik berikut :

Dari grafik terlihat bahwa terjadi kenaikan prevalensi balita stunting sebesar 2,98% dari 10,84% ditahun 2020 menjadi 13,82% di tahun 2021. Kenaikan prevalensi balita stunting di tahun 2021 belum bisa menggambarkan prevalensi stunting yang sesungguhnya, hal ini dikarenakan cakupan balita yang diukur dibandingkan sasaran di tahun 2021 hanya 66,12%, sedangkan untuk tahun 2020 cakupan balita yang diukur adalah sebesar 72,06%, yaitu 4894 balita yang diukur dari 6791 sasaran yang tercatat di ePPGBM pada tahun 2020. Turunnya  cakupan balita yang diukur dari tahun 2020 ke tahun 2021 juga menunjukkan masih rendahnya kualitas status gizi yang dihasilkan di wilayah kabupaten Lingga.

Adanya pandemi covid 19 menjadi kendala dalam pelaksanaan pengukuran termasuk pada penimbangan bulan Agustus yang menjadi acuan dalam gambaran nilai status gizi pada tahun tersebut. Terdapat beberapa posyandu di wilayah kerja kabupaten lingga yang tidak buka sehingga menyebabkan kunjungan balita ke posyandu menjadi turun. Berdasarkan pengalaman pandemi covid 19 tahun sebelumnya, yaitu tahun 2020, Dinas kesehatan kabupaten lingga sudah melakukan upaya untuk melakukan kegiatan penjaringan balita stunting pada tahun 2021 untuk semua wilayah kerja posyandu dengan tujuan agar semua balita dapat diukur pada tahun 2021 (total coverage), namun ternyata pada pelaksanaannya juga masih terpengaruh oleh kondisi pandemi covid 19, banyak warga yang takut dikunjungi oleh petugas gizi/kesehatan puskesmas untuk dilakukan pengukuran terhadap balitanya, hal ini menyebabkan tidak maksimalnya pelaksanaan kegiatan penjaringan balita stunting di kabupaten Lingga.

Harapan untuk tahun 2022 tentunya cakupan balita yang diukur mengalami peningkatan hingga mencapai total coverage (100% balita yang diukur dan ditimbang), serta balita yang diukur bisa tervalidasi hingga dapat segera dilakukan intervensi terhadap balita stunting. Dengan total coverage tentunya gambaran status gizi yang disajikan juga memiliki kualitas yang baik pula.

Selain data status gizi balita, ke dalam e-PPGBM juga diinput data faktor determinan. Faktor determinan sendiri merupakan faktor faktor yang mempengaruhi status gizi (stunting), yakni kepemilikan JKN, jamban sehat, air bersih, imunisasi, kecacingan, merokok, riwayat bumil KEK dan penyakit penyerta. Faktor determinan 603 balita stunting Kabupaten Lingga adalah 241 balita tidak memiliki JKN, 203 balita tidak memiliki jamban sehat, 11 balita tidak memiliki air bersih, 37 balita tidak imunisasi, 423 keluarga balita adalah perokok, 9 balita menderita kecacingan, 81 ibu balita mempunyai riwayat KEK (kurang energi kronik) saat hamil, dan 3 balita memiliki penyakit penyerta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.