Sejumlah Perusahaan Agribisnis Pertanian Minat Investasi di Lingga

Diposting pada
Foto: Mentan RI Andi Amran Sulaiman (tengah) didampingi Gubernur Kepri dan Bupati Lingga saat tiba di Pelabuhan Tanjung Buton Daik, Rabu (7/9/2016). Hms

JAKARTA (Media Center) – Sejumlah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang agribisnis pertanian dan peternakan menyatakan minatnya untuk investasi di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri). Mereka menyatakan ketertarikannya setelah Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman mentetapkan Lingga sebagai kawasan pertanian organik.

Hal itu terungkap dari pertemuan Bupati Lingga, Alias Wello dengan Chief Executive Officer (CEO) PT. Great Giant Livestock, PT. Nusantara Tropical Farm dan PT. Umas Jaya Agrotama, Iswanto dan Tim Pakar Upsus (Upaya Khusus) Menteri Pertanian, Farid Bahar di Jakarta, Jumat, (9/9/2016).

 Dalam pertemuan yang berlangsung di gedung Chase Plaza Podium itu, Bupati Lingga, Alias Wello memaparkan potensi geografis Kabupaten Lingga yang berdekatan dengan negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia. Selain itu, Lingga juga memiliki dukungan lahan kosong yang masih tersedia cukup luas.       

“Kami punya 604 pulau besar dan kecil. Sebanyak 98 pulau sudah berpenghuni dan selebihnya masih kosong. Jarak tempuh ke Singapura dan Malaysia dengan menggunakan kapal laut hanya butuh waktu hanya 3,5 – 4 jam,” ungkap Alias.

Menurut dia, Kabupaten Lingga yang berada di ujung paling selatan Provinsi Kepri itu, memiliki keunggulan komparatif untuk pengembangan agribisnis pertanian, peternakan dan perikanan yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya di Indonesia. Keunggulan itu, antara lain, ketersediaan air bersih yang melimpah dan ketersediaan lahan yang masih sangat luas.  

“Bayangkan, kami punya sembilan lokasi air terjun yang mengalir sepanjang tahun. Kami punya 604 pulau yang sangat potensial untuk pengembangan agribisnis pertanian, peternakan dan perikanan,” beber Alias, mantan Ketua DPRD Lingga Masa Bhakti 2004 – 2009 ini.

Sementara itu, CEO PT. Great Giant Livestock, PT. Nusantara Tropical Farm dan PT. Umas Jaya Agrotama, Iswanto yang didampingi Government Relation Director, Welly Soegiono mengaku sangat suprise atas informasi yang disampaikan Bupati Lingga tersebut. Ia berjanji segera berkunjung langsung ke Lingga dalam waktu dekat ini.

“Kami sangat senang atas kunjungan dan penjelasan pak Bupati. Perusahaan kami bukan perusahaan yang baru cari pasar, tapi perusahaan yang dicari dan ditunggu – tunggu pasar. Setiap bulan kami ekspor produk minuman dari nenas sebanyak 1.000 kontainer. Kami punya kebun nenas ada 30.000 Ha, pisang sekitar 3.600 dan sapi ternak sekitar 25.000 ekor,” jelasnya.

Menurut Iswanto, agribisnis pertanian dan peternakan yang dikembangkannya di Lampung itu, semuanya berbasis organik dan zero waste. Limbah yang dihasilkan dari pengolahan nenas dan pisang dijadikan pakan ternak sapi. Kemudian kotoran sapi itu diproses menjadi bahan bakar gas dan ampasnya dijadikan pupuk organik untuk tanaman nenas dan pisang.

“Saya sangat berminat. Memanfaatkan pulau – pulau kosong itu untuk peternakan lebih bagus dari pulau – pulau yang sudah berpenghuni. Lebih steril dari penyakit. Ibaratnya, ternak seperti dikarantina,” katanya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dalam kunjungan kerjanya ke Lingga, Rabu, (7/9/2016), bertekad membalikkan posisi Kepri sebagai surga penyelundupan beras dari negara tetangga menjadi produsen dan penguasa pangan di pasar Singapura dan Malaysia. Syaratnya, Kepri harus punya sawah minimal 10.000 Ha dengan produktivitas tinggi dan organik.

“Urusan Singapura dan Malaysia ini, cukup diselesaikan oleh Kepri. Jakarta tidak perlu ikut campur. Cukup dijawab dengan meningkatkan produktivitas pangan kita, khususnya beras dari Kepri,” tegas Amran.

Selain beras organik, Amran juga menyarankan agar Kepri mengembangkan perkebunan buah – buahan organik dengan memanfaatkan pulau – pulau kosong yang tersebar di Kabupaten Lingga.

“Saya sudah bicara dengan pak Gubernur dan Bupati Lingga. Setelah beras organik, kita lanjutkan ke buah – buahan organik. Pokoknya, paling lambat tahun depan, ekspor pangan organik dari Kepri ini sudah bisa jalan,” tambahnya. (Adi/*/MC Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *