Normalisasi Sungai Dominasi Usulan Musrembang Kecamatan Lingga

Diposting pada

Foto: Musrenbang Kecamatan Lingga di gedung serbaguna lelasangguna Daik Lingga. Ard

Lingga (Media Center) – Pendangkalan yang terjadi hampir di seluruh sungai di kecamatan Lingga, menjadi usulan prioritas sejumlah desa se kecamatan Lingga, di Musrenbang tingkat kecamatan Lingga pada 29 Februari sampai 1 Maret 2016 kemarin.

Hal itu dianggap prioritas karena, beberapa desa di Lingga menilai sungai miliki peran penting dan sumber penghidupan bagi warga nelayan maupun petani sagu. 

Persoalan pendangkalan sungai terjadi mulai dari desa Musai, Nerekeh, Panggak Laut, kelurahan Daik dan desa Merawang. Sedikitnya, 6 aliran sungai yang perlu mendapat prioritas pembenahan secara menyeluruh.

M Zahid, kepala desa Merawang mengatakan, normalisasi sungai Budus di RT 6 telah lama menjadi uslan desa sejak 2012 lalu. Dangkalnya aliran sungai Budus, dikatakan Zahid membuat puluhan nelayan didesanya kini tidak bisa lagi melintasi jalur sungai untuk pergi melaut. 

Begitu juga akses bagi petani sagu didesa Merawang mengirim tual-tual sagu untuk dipasarkan ke pabrik-pabrik pengolahan di Daik.

“Kita minta segera dilakukan normalisasi sungai, ini sangat penting. Pertama, akibat musim hujan, karena sungai yang dangkal sebagian desa selalu terendam banjir,” kata dia.

“Kedua, menjadi hambatan lalu lintas nelayan. Ketiga, petani sagu juga sulit beraktifitas mengirim hasil kebun sagu. Ke empat, aliran sungai Budus adalah satu-satunya resapan air dari kampung Cening, Perumahan Dinas pemkab Lingga, Sekolah maupun lokasi rumah sakit yang akan dibangun,” tutur M Zahid, Kamis (3/3).

Selain sungai Budus desa Merawang, kondisi serupa di kelurahan Daik Lingga juga sama. Yakni sungai Tanda dan Sungai Daik yang semakin dangkal juga menggangu aktifitas para nelayan. 

Saat musim hujan, kedua aliran sungai ini tidak mampu menyerap air hujan dari gunung Daik yang membuat halaman pemukiman warga selalu terendam. Selain itu, sungai Daik yang juga menjadi jalur barang kapal-kapal kayu dari Jambi namun kondisinya sangat menghawatirkan. Belum lagi banyaknya sampah-sampah limbah rumah tangga.

Sementara di desa Panggak Laut, di sampaikan Ahmad kepala desa setempat, kuala sungai oleh warga desa beberapa kali dilakukan pembersihan. Namun tetap tidak maksimal. Warga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan saat air laut surut tidak bisa melintasi aliran sungai.

“Dari desa kita, sudah kita usulkan juga normalisasi. Kita butuh pelebaran dan pendalaman aliran sungai. Kondisinya sekarang, nelayan dan petani sagu sulit beraktifitas,” jelas Ahmad.

Tahun 2015 lalu, dikatakan Ahmad sedikitnya telah tiga kali warga bergotongroyong membersihakan lumpur yang tinggi dikula pintu masuk sungai menuju desa. Namun belum maksimal. 

Dia berharap, pemerintah daerah dapat mengakomodir usulan prioritas desa-desa yang Urjens. 

Selain itu, Ahmad juga memina pembenahan drinase dijalan lintas, sebab dalam tata ruang, desa Panggak Laut adalah wilayah perkotaan kabupaten. Namun buruknya drinase yang belum tersentuh tangan pemerintah, saat musim utara dan pasang besar air laut yang terjadi merendam pemukiman masyarakat. (BP/MC Lingga)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *