Kesenian Tradisi Bisa membentuk Karakter Bangsa

Diposting pada

Foto: Tom Ibnur (dua dari kiri), Salah seorang Dosen di IKJ, saat menyaksikan malam purnama bahasa di Lingga. Ard

LINGGA (MC) – Tom Ibnur, seorang pengamat budaya menyebutkan, menekuni kesenian tradisi bagi generasi muda, dapat membentuk kepribadian bangsa. Hal itu ia katakan usai mengamati pertunjukan Malam Purnama Bahasa yang digelar pemuda-pemuda pelaku seni Lingga di halaman Museum Linggam Cahaya, Sabtu (9/1) malam.

Dikatakan Tom Ibnur, walaupun kita tidak bisa menolak hadirnya berbagai bentuk kesenian dan budaya dari luar, maka usaha memamerkan kembali kesenian tradisi seperti halnya pertujukan yang ia saksikan tersebut, adalah usah yang sangat positif. 

“Melalui pertunjukkan ini anak-anak kita menghargai kesenian kita,” kata dia.

Sejauh ini, Ibnur menilai masih terdapat stagnasi dalam pembinaan generasi muda melalui kesenian kepada anak-anak muda. Walau berbagai model ragam kesenian seperti halnya hip-hop melalui televisi, sangat mudah disenangi oleh anak muda. Namun, harus diketahui bahwa generasi muda perlu dibina melalui kesenian tradisi.

“Ini sangat positif, jangan sampai mereka tidak tahu dengan tradisi mereka,” tuturnya.

Menurut Ibnur, untuk membina generasi muda bangsa, harus mengembalikan kebudayaan kepada pendidikan. Seperti halnya Baswedan, mentri pendidikan yang terus berusaha memperkenalkan Zapin ke 34 daerah yang ada di Indonesia.

“Kebudayaan itu kembalinya kepada pendidikan. Alhamdulillah pemerintah ada pemikiran kesitu. Usaha lain, bisa mengenalkan kesenian tradisi melalui media dan televisi, supaya generasi kita tertarik,” ujarnya.

Sebagai pengamat, sekaligus sebagai salah satu pelaku seni tari juga, Tom Ibnur mengatakan bahwa siapa pun itu, harus siap membenahinya kedepan.

“Kita siap mulai membenahi. Kesadaran masyarakat sudah tepat dalam situasi sekarang ini, untuk mengantisipasi kecepatan berubah dalam mengemukakan kesenian tradisional bangsa kita,” terangnya.

Sekilas disinggung mengenai kota lama Daik Lingga, yang banyak terdapat penanda sejarah dan kultur Kerajaan Lingga-Riau, serta khasanah Melayu. Dalam hal itu, Ibnur berpendapat, Daik jangan dijadikan kota. Kalaupun jadi kota boleh asal kota lama ini tidak diganggu.

“Kalau mau bangun kota baru, beri lahan baru. Seperti halnya Prancis dan berbagai belahan dunia lainnya. Berbagai bentuk kota lama seperti bangunannya tidak diganggu, dan bangun kota baru di tempat baru yang saling berhadapan dengan kota lama,” ujarnya.

Dikatakannya lagi, suatu keunikan di Daik Lingga, dimana adannya berbagai puak-puak Melayu, Cina Bugis, Keling. Hal ini menunjukkan keharmonisan.

“Masa’ kita gak bisa mengatakan ini warisan. Kita mempunyai kekuatan untuk mengingatkan itu. Kita harus berani. Ini klu dipertahankan, keharmonisan itu akan tetap berjalan,” ujarnya.

Sementara terkait pertunjukkan kesenian Malam Purnama Bahasa, Ibnur mengapresiasi ragam tradisi yang berhasil dipentaskan para pemuda Lingga. Acara tersebut turut menghadirkan Sanggar Megad Rambai yang diasuh Pak Tam, seorang musisi senior, dengan membawakan lagu khas, Tabik, Dondang Sayang, Serampang laut.

Begitu juga syair burung, dibawakan oleh penyair Abdul Nadar, Di iringi tiupan nafiri oleh Pak Long Leman. Serta pertunjukan Sanggar Sri Baiduri Desa Pekaka dengan sejumlah tarian khasnya, Sanggar seni pelangi dengan Tari kipas pengantin, Sanggar Langgam Selatan membawakan tari Zapin Mufakat. Serta Drama musikal, berjudul Ambung, dari SMK N2 Lingga.(KP) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *