Sastra Melayu Klasik Mengisi Malam Purnama Bahasa

Diposting pada

Foto: Lagu serampang laut yang dinyanyikan salah seorang seniman senior, saat membuka acara Malam Purnama Bahasa. Bre

Lingga (MC) – Penggiat seni Lingga tampilkan ragam seni bahasa dan sastra melayu klasik dalam pergelaran Malam Purnama Bahasa, yang digelar Sanggar Megad Syah Alam di halaman museum Linggam Cahaya Daik Lingga, Sabtu (9/1) malam.

Pergelaran tersebut dalam rangka mengapresiasi khasanah bahasa dan sastra melayu klasik berupa pantun, tabek, syair maupun gurindam, yang masih tumbuh dalam keseharian masyarakat di Daik Lingga.

Hasbi, salah seorang penggiat seni di sanggar Megad Syah Alam menjelaskan, konsep pertunjukan Malam Purnama Bahasa ini dimaksud untuk mengusung semangat khasanah bahasa.

“Pertunjukkan ini berlangsung dua hari, 9 sampai 10 Januari. Beberapa pertunjukkan dilakukan oleh sejumlah pemuda pelaku kesenian di Lingga,” Kata dia di Lingga, kemarin.

Dikatakan Hasbi, kegiatan itu juga dimaksud untuk menunjukkan, bahwa Lingga yang digelar Bunda Tanah Melayu terus memelihara khasanah pantun, syair, maupun Tabek, serta sejumlah khasanah bahasa lainnya, dalam keseharian masyarakatnya.

Selain itu, bentuk apresiasi terhadaap bahasa juga turut dituangkan kedalam bentuk karya musik melayu Islam Khazanah Bunda Tanah Melayu, seni Debus dan Tun Bilek dalam perspektif seni melayu islam yang berkembang di Daik Lingga, bekas pusat kesultanan Lingga-Riau.

“Seperti yang diusung oleh Sanggar seni Megad Syah Alam dengan menuangkan bentuk syair kedalam musik,” ungkapnya, yang sekaligus sebagai panitia pergelaran Malam Purnama Bahasa tersebut.

Selain pemuda pencinta sastra melayu klasik, panitia juga telah mengundang para legenda pelaku seni yang masih ada. Salah satu diantaranya yakni, Pak Itam, musisi senior dari Pancur, Lingga Utara, Pokcu Adai, pelantun syair burung, dan seniman senior lainnya.

Bukan hanya itu, pada puncak pergelaran Malam Purnama Bahasa, juga menampilkan sejumlah dokumentasi khasanah bahasa di Lingga melalui video dokumenter.

“Kita mengapresiasi, bahwa kesenian apa pun tetap membawa bahasa. Nah dari bahasa yang menunjukkan akal budi kita berusaha untuk apresiasi,” tutupnya. (MC Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *