Norman Sulaiman Lahirkan Buku “Ladang Hati”

Diposting pada

Foto: Norman Sulaiman, salah seorang penyair asal Singkep pamerkan buku karyanya. (Istimewa)

LINGGA (MC) – Norman Sulaiman, seorang seniman Kabupaten Lingga asal Dabo Singkep telah berhasil melahirkan sebuah buku berjudul “Ladang Hati”, yang berisi kumpulan puisi-puisi miliknya. 

Berbekal bakat dibidang teater dan puisi, Norman telah berhasil memberikan motivasi dan inspirasi bagi penulis dan penyair lokal untuk berkarya. Buku kumpulan puisi itu diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Kepri, dimana cetak perdananya pada bulan Juni 2015 lalu.

Beberapa penulis lokal menilai, puisi karya Norman Sulaiman tak kalah dari penulis-penulis Indonesia yang sudah memiliki nama besar. Puisi Norman memiliki karakteristik tersendiri.

Nurjali, salah seorang penulis lokal asal Dabo Singkep Kabupaten Lingga, Selasa menuturkan, puisi Norman Sulaiman berisi puisi-puisi kritis dari hati nuraninya dan kritikan pedas terhadap rezim dan kondisi lingkungan ini, diisi dengan bahasa-bahasa sastra yang indah dan mudah dicerna oleh pembaca.

“Buku ini memotivasi para penulis untuk terus berkarya,” ungkap Nurjali.

Norman Sulaiman adalah salah satu dari sekian banyak seniman melayu Lingga yang berani menerbitkan buku kumpulan puisinya. Hanya dengan berbekal pengalaman, hobi dan bakatnya dibidang sastra, Norman telah berhasil melahirkan sebuah karya yang dapat dinikmati banyak kalangan. 

“Buku kumpulan puisi ini adalah perdana diterbitkan oleh dinas pariwisata, dan buku ini saya berharap dapat menjadi motivasi bagi penyair lainnya di Lingga dan Kepri,” Jelas Norman sulaiman.

Buku kumpulan puisi yang berisi 104 judul puisi ini, juga banyak berisi curhatan hatinya dengan Kondisi Daerah, seperti puisi yang berjudul “Bunda Senyummu Adalah Duka Kami”, ” Sebaris kata buat bunda “, dan ” Negeri Kata-kata”. 

Judul-judul puisi itu sangat kental dengan kondisi daerah Kabupaten Lingga yang dijuluki sebagai Bunda Tanah Melayu.

Dalam pengantar buku ini, Husnizar Hood, Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepri juga menyampaikan bahwa dizaman sekarang ini penyair di Kepulauan Riau sudah sangat memperihatinkan, bahkan jumlahnya tak lebih dari 10 dalam hitungan jari tinggal 5 orang. Dan itupun sebagian besar sudah berusia 50 tahun ke atas.

“Buku kumpulan puisi ini sangat penting, untuk bisa menjadi identitas dan entitas kepenyairan bagi daerah tanah melayu yang melahirkan karya sastra ini sendiri,” tulisnya dalam buku tersebut. (MC Lingga)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *