Pedagang Pasar Pancur Hentikan Pasokan Beras Sementara

Diposting pada

Ilustrasi : Seorang buruuh pikul mengangkat beras dari guudang. Net

Lingga, MC – Pedagang pasar Pancur Kecamatan Lingga Utara, mulai menghentikan sementara pasokan beras yang di datangkan dari wilayah Batam dan Tanjungpinang, karena pertimbangan harga modal yang semakin tinggi.

Pasar yang merupakan salah satu pintu masuk kebutuhan pangan masyarakat di Kabupaten Lingga tersebut, hanya memiliki pasokan beras untuk 3 minggu kedepan.

“Harga beras di pasar Pancur saat ini sudah 300 ribu per karung (25 Kg). Kita berpikir dua kali untuk pesan barang dari Batam,” kata Acik, salah satu pedagang pasar Pancur, Senin (1/11).

Dia mengatakan, sejak sebulan terakhir, pasokan beras cukup terganggu. kenaikan harga beras yang tinggi mencapai 300 ribu perkarung, membuat pengusaha dan pedagang di Pancur berpikir dua kali untuk mendatangkan beras.

“Bulan 10 kemarin, kita cuma berani ambil sekali trip. Harga beras semakin tinggi. Kalau sekarang, kita tidak berani, mahal sekali,” tuturnya.

Acik menjelaskan, untuk harga pasaran beras per karung (25 Kg) yang masuk dari Batam, beras Merk Horas seharga Rp 260 ribu, merk Minang Raya Rp 260 ribu, merk Harumas Rp 280 ribu dan beras merk Lonceng, Rp 270 ribu.

Sementara harga beras lokal produksi Indonesia yang dikirim dari Jakarta ke Tanjungpinang dan masuk ke pasar Pancur, harganya juga tidak jauh berbeda.

Untuk beras biasa kualitas rendah di distributor Tanjungpinang, per karung (20 Kg) seharga Rp 230 ribu. Sedang beras lokal dengan kulitas baik yang sampai di rata wilayah Kepulauan Riau, di patok Rp 260 ribu perkarung (20 Kg).

Harga tersebut belum termasuk biaya transportasi laut untuk sampai ke Pancur, Kabupaten Lingga.

“Harga beras itu, belum termasuk ongkos angkutan. Ongkos Truk Rp 4 ribu, ditambah lagi ongkos kapal, Rp 11 ribu perkarungnya. Harga beras lokal, jauh lebih mahal,” jelas Acik.

Untuk harga beras lokal yang dijual para pedangang pasar Pancur saat ini, dikatakan Acik, perkilo mencapai Rp 12 ribu.

Bukan hanya persoalan harga, keluhan pedagang juga menyakut daya beli masyarakat yang menurun sejak meroketnya harga beras tersebut.

Hal itu yang menjadi alasan bagi pengusaha menunda pasokan kebutuhan pokok masyarakat tersebut. Sementara stok yang ada, dikatakan Acik terbatas.

“Stok beras kita masih ada kalau 3 minggu kedepan. Untuk sementara, kita stop dulu datangkan beras. Naiknya harga juga membuat daya beli masyarakat menurun,” terangnya.

Acik berharap, pemerintah dapat segera mencarikan solusi melonjaknya harga beras khusunya di kabupaten Lingga. Pasar Pancur, dikatakannya, sangat bergantung pada pasokan beras yang ada di Batam dan Tanjungpinang.

“Kita berharap, ada solusinya. Apakah nanti, pasokan beras didatangkan dari Jambi atau bagaimana. Ini sudah parah,” tutupnya. (MC Lingga) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *