Kabut Asap Ganggu Nelayan Lingga Melaut

Diposting pada

Foto: Perahu Nelayan Desa Penaah hanya bersandar di pelantar rumah, karena kabut asap yang menyulitkan Nelayan melaut. Istimewa

Lingga, MC – Nelayan tradisonal Desa Penaah, Kecamatan Senayang Kabupaten Lingga, membatasi jarak melaut dibawah 10 Mil dari gsris pantai, akibat kiriman kabut asap yang mengganggu jarak pandang para nelayan sejak tiga minggu terakhir.

“Kita tidak bisa melaut lebih dari 10 Mil dari garis pantai, sejak kabut tiga minggu ini. Kalau jauh, kita takut sesat, tak bisa pulang. Perahu kita tak punya GPS,” kata Eko, salah seorang Nelayan Desa Penaah, di Lingga, Minggu.

Eko mengatakan, para nelayan Penaah notaben nelayan tradisional dan perahu mereka di lengkapi fasilitas seadanya, tanpa alat navigasi seperti GPS. Hal tersebut menyulitkan para nelayan mencari ikan besar yang biasanya hidup di wilayah laut diatas 10 Mil dari garis pantai, sejak kabut asap yang turut menyelimuti perairan Lingga.

“Klau dekat masih bisa lah, tapi ikannya kurang dan rata-rata ikan kecil. Kalau ke laut lepas ikannya lebih banyak dan rata-rata ikan besar. Selama ini kita pakai penanda pulau, kalau sekarang jadi sulit, pulaunya tertutup kabut,” katanya.

Eko mengatakan, kabut yang terjadi sedikit mengurangi penghasilan para nelayan di Desa pemasok ikan terbesar untuk Kabupaten Lingga tersebut. Namun, bagi nelayan yang memiliki alat tangkap cumi-cumi, tidak begitu khawatir. Karena saat ini, cumi-cumi cukup banyak di laut sekitar pulau Penaah.

“Memang sedikit menurun penghasilan kita saat ini bahlan kalau mau ke laut, harus bawa bahan bakar lebih, takut nyasar di laut. Tapi kalau bisa nyomek nos (cara menangkap Cumi-cumi-red) bisa untuk mengganti penghasilan kita, pas lagi musimnya,” kata dia.

Pantauan Antara, kabut asap akibat kebakaran hutan di daratan Sumatera juga dirasakan masyarakat Lingga. Hal tersebut turut berdampak pada jarak pandang melaut para nelayan tradisional di Kabupaten Lingga.

Diperkirakan, sudah 20 hari keberadaan kabut asap tersebut telah mengganggu nelayan melaut. Tak banyak perahu yang memiliki alat navigasi lengkap. Jika para nelayan memaksa untuk tetap melaut, maka harus membawa bahan bakar cadangan untuk mengantisipasi mereka kehilangan arah di laut. (Antara/Mc Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *