Distanhut Lingga Sediakan 3 Lokasi Peternakan Skala Besar

Diposting pada

Foto: Peternakan sapi skala besar tengah direncanakan pembangunannya oleh Distanhut. Net

Lingga, MC – Pemerintah kabupaten Lingga, melalui dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) rencanakan tiga wilayah peternakan lembu skala besar untuk masyarakat kabupaten Lingga. Satu lokasi di pulau Singkep yakni desa Maruk dan dua lokasi lagi diwilayah pulau Senayang, yakni pulau Cempa dan Mabung, Selasa (21/4).

Selain dapat menjadi sumber untuk meningkatkan prekonomian masyarakat pulau, disampaikan Rusli Ismail, kadistanhut Lingga, peternakan lembu sangat potensial untuk dikembangkan di wilayah pesisir Lingga. Sebab kebutuhan makan ternak dan air cukup terpenuhi.

“Kita rencanakan tiga wilayah peternakan lembu sekala besar. Lokasinya nanti di desa Mabung dan Cempa kecamatan Senayang dan satu lokasi lagi di Maruk pulau Singkep,” ungkap Rusli beberapa waktu lalu.

Rusli menambahkan, program distanhut tahun-tahun sebelumnya juga telah membantu pengadaan lembu bagi masyarakat desa Mensanak, kecamatan Senayang, Sungai Pinang dan desa Bukit Harapan. Hasilnya pun dikatakan Rusli sangat baik. Ternak yang dikelola masyarakat, berkembang. 

“Sistem bergulir di Bukit Harapan, peternakan lembu, sangat berkembang,” tambahnya.

Sementara untuk peternakan lembu desa Mensanak, pulau kecil wilayah kecamatan Senayang, dikatakan Rusli, pengelolaan yang dilakukan masyarakat tidak terlalu sulit. Peternakan lembu dengan cara dilepas ke alam bebas, juga akan diterapkan di pulau Cempa, Mabung dan Maruk. Dengan cara pengelolaan seperti itu, dikatakannya membuat pertumbuhan ternak akan semakin baik. Selain itu, pihaknya juga akan memberikan pembinaan bagi masyarakat yang mau mengelola.

Selain itu, Rusli juga menyinggung pengelolaan ternak lembu warga Daik Lingga. Pertumbuhan masyarakat yang sekamin ramai, berangkat dari status kecamatan  namun sekarang menjadi ibukota kabupaten Lingga yang terus bertambah ramai penduduknya, dengan pola kebiasaan masyarakat yang melepas ternak tanpa kandang, seharusnya dikatakan Rusli sesegera mungkin dicarikan solusi. Sebab, hal ini mulai mengganggu keindahan kota. Kotoran ternak masih sering ditemukan dijalan-jalan.

“Banyak masyarakat yang beternak dengan pola dilepas di Daik, ternaknya terus berkembang biak dan semakin banyak. Kita menghimbau untuk dikandang. Kalau kesulitan menangkap, kita dari distanhut siap membantu dan bekerjasama dengan pemilik wilayah baik desa maupun lurah agar tidak lagi ternak-ternak ini merusak keindahan kota,” ungkapnya.

Selain ternak lembu yang menjadi program distanhut, Rusli menambahkan pihaknya juga berupaya mengadakan konsevasi terhadap Pelanduk (red kancil) yang masih banyak ditemukan di Lingga. Sebab, selain termasuk salah satu hewan langka yang perlu dijaga keberadaannya, serta pemburuan yang masih terus berlangsung pihaknya akan berupaya membudidayakan hewan yang terkenal cerdik ini. “Kita juga akan mencoba membudidayakan pelanduk. Desa wisata pulau Mepar, juga akan kita siapkan sebagai lokasinya. Pelanduk akan kita lepas disana,” tutup Rusli. (bree/MC Lingga)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *