Distanhut Canangkan Perluasan Hutan Karbon di Lingga

Diposting pada

Foto: Kusuma, salah seorang Dendrolog bersama timnya, sedang mengidentifikasi tumbuhan di hutan Lingga. Ard 

Lingga, MC – Pemerintah kabupaten Lingga, melalui dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) mencanangkan penambahan lokasi hutan karbon diwilayah hutan Lindung pegunungan Lingga. Hal tersebut diungkapkan kadistanhut Lingga Rusli Ismail, beberapa waktu lalu.

Disampaikan Rusli, saat ini kabupaten Lingga baru memiliki 5 plot hutan karbon. Untuk itu, pada 2016 mendatang, distanhut berencana memperluas area hutan karbon dan menambah 5 titik plot karbon lagi di hutan Lindung baik dilereng gunung Daik maupun lereng gunung Sepincan pulau Lingga.

Secara ukuran luas daratan, Lingga hanya kepulauan kecil yang daratannya hanya 4 persennya dari luas keseluruhan. Namun, kekayaan hayati yang begitu berpotensi sebagai penyumbang karbon dunia menjadi salah satu keuntungan yang dimiliki kabupaten Lingga. Hutan yang alami dengan 56 jenis tanaman kayu hutan yang di lindungi ditambah lagi beraneka jenis anggrek, puluhan jenis simba dan tumbuhan herbal lainnya  dapat ditemukan di pulau Lingga.

“Hutan karbon di Lingga ini menjadi kebutuhan dunia. Salah satu penyumbang oksigen dunia. Saat ini, Lingga baru memiliki 5 plot hutan karbon. Kedepan kita akan menambah 5 plot hutan karbon lagi,” ungkap Rusli bapak tiga orang anak ini.

Hemat Rusli, dengan adanya hutan karbon yang semakin diperluas dapat menyedot dana-dana pusat, donatur luar negri dan Bank Dunia untuk ikut membantu menyelamatkan hutan Lingga. Sebab hal ini, menjadi penting mengingat di kepulauan Riau (Kperi) saat ini hanya hutan Lingga dan Natuna-lah yang masih terjaga dengan baik. Ia mengatakan, distahut Lingga juga akan berkoordinasi dengan pemprov kepri terkait hal ini.

“Kita nanti juga akan berkoordinasi dengan pemprov Kepri. Agar dapat membantu penyelamatan wilayah hutan di Lingga,” tambahnya.

Selain itu, dikatakan Rusli lagi, pihaknya juga telah mencanangkan pembibitan tanaman lokal dan langka di Lingga. Program tersebut telah diusulkan pada tahun 2015. Namun karena terbatasnya anggaran APBD kabupaten Lingga, membuat sejumlah kegiatan tersebut dipangkas. Kendati begitu, ia berjanji hal tersebut akan tetap dilaksanakan ditahun-tahun mendatang.

“Kita minta bantu Agraria menyiapkan 2 hektar lahan untuk pembibitan. Kita juga akan melakukan pendataan. Nanti penyuluh kita yang ikut membantu mengelola sumber daya alam ini. Baik itu tanaman lokal, maupun tanaman-tanaman langka yang hanya ada di Lingga. Tapi karena anggaran terbatas, sejumlah kegiatan kita tertunda,” pungkasnya.

Sementara itu, Kusuma salah seorang pengamat dendrologi yang juga bekerja di staf Argraria kabupaten Lingga, mengamati, bahwa hutan Lingga tergolong hutan biodiversti atau kaya akan kepelbagaian bio. 

Dari hasil penelitian dan identifikasi tanaman langka di Lingga, dia mengatakan, dari 5 plot hutan karbon yang ada saat ini, sedikitnya 290 Ton karbon pertahun disumbangkan hutan Lingga untuk dunia. Bahkan, jika saja lahan karbon diperluas hingga 9800 hektar, akan semakin besar manfaatnya untuk dunia dan hutan Lingga sendiri. 

“Keanekaragaaman hayati yang Lingga miliki sangat tinggi. Skornya sudah 4,2. Saat ini kita ada sekitar 290 Ton stok karbon diatas permukaan tanah. Kalau saja 9800 Hektar hutan di Lingga dapat dimanfaatkan, dalam setahun ada berapa ton yang akan disumbangkan sebagai oksigen dunia?,” terang Kusuma atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Syekh ini.

Ia yang juga telah bekerjasama dengan Kebun Raya Bogor-LIPI mengatakan, sejak tahun 2010 lalu, dari 5 plot hutan karbon yang ada, sejumlah peneliti dan ahli Botani Bogor dan Dunia semakin ramai ke Lingga. Hutan Lingga semakin di lirik dunia. Hal ini benar-benar memberikan manfaat besar, sebab identifikasi akan berlangsung dengan baik. Bahkan menurut pria paruh baya yang hobi berkelana seorang diri kehutan ini, dan telah menjelajah hampir ke seluruh pegunungan dan hutan di wilayah Indonesia, keanekaragaman hayati yang komplit ia baru temukan di Lingga. Fakta tersebut dikatakan benar adanya tanpa menambah-nambah.

“Setumpuk hutan di Daik Lingga ini, tak bisa dilawan keanekaragaman hayatinya. Ini perlu dijaga. Uniknya Lingga terletak di lautan, tapi kita punya pulau besar yang bukit, berawa, gunung, sungai yang berbatasan dengan laut sehingga banyak ditumbuhi puluhan jenis bakau (mangrove). Semua ekosistem terkumpul di sini (Lingga). Sejak 2010, banyak proyek botani yang berlangsung di Lingga,” jelas Pak Syekh lagi.

Ia juga berharap, dengan perhatian kebun Raya Bogor-LIPI, maupun pemerintah daerah sendiri yang semakin peka terhadap potensi yang dimiliki Lingga, dapat menyedot dana dunia. Hal ini juga akan berdampak terhadap lowongan pekerjaan bagi warga pribumi.

Pak Syekh menambahkan, meskipun saat ini belum banyak masyarakat dan kesadaran yang tumbuh, hutan di Lingga cukup terjaga. Dari identifikasi yang ia kerjakan sejak 4 tahun lalu dari tahun 2010, sedikitnya ada 56 jenis tumbuhan kayu yang di lindungi dunia. 

“Lebih kurang 56 jenis tumbuhan kayu yang di lindungi dan ada di hutan lindung pulau Lingga. Itu tak masuk jenis anggrek, simbaa dan tanaman herbal. Disini juga ada Drosena, Tanaman Embun Matahari, Anggrek Hitam Lingga, Kruwing Jantung di wilayah Sungai Besar dan Selter 2 pendakian Gunung Daik, Mersawa Kuning ada di Resun dan Malar dan hanya ada di Lingga,” tutupnya. (Bree/MC Lingga)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *