Tradisi Maulid Nabi Masih Bertahan Hingga Kini

Diposting pada

Rombongan laki-laki dari perwakilan mesjid dan desa tetangga menghadiri jemputan Maulid Nabi di Desa Wisata Mepar. Foto-Ard (MC Kab Lingga)

Lingga, MC – Sudah menjadi tradisi masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Lingga melakukan jemputan antar dusun saat merayakan hari besar Islam, salah satunya perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan secara bergiliran pada tiap-tiap Mesjid di Lingga.

Dari generasi ke generasi, tradisi jemputan atau mengundang warga kampung lain dan pengurus surau dari kampung tetangga, untuk datang merayakan Maulid Nabi bersama, masih terus melekat dan bertahan hingga saat ini.

Seperti perayaan Maulid nabi yang diselenggarakan di mesjid Al-Marhammah Desa wisata Mepar, pengurus mesjid yang menyelenggarakan kegiatan pada hari ke-15 tersebut mengundang para warga serta perwakilan dari mesjid-mesjid di Daik Lingga, Desa kelombok,dan Desa lainnya di sekitar Pulau Mepar, Minggu (18/1).

Kepala Desa Mepar, Muhammad Tahir memaparkan, kegiatan Maulid Nabi selalu digelar setiap tahunnya. Tradisi ini melekat sejak beratus tahun yang lalu. “Maulud seperti di Mepar ini sudah ada sejak zaman kesultanan Lingga. tradisi ini masih melekat dan terus kita pertahankan,” paparnya.

Untuk maulid Nabi tahun ini, dikatakan Tahir, Pihak pengurus mesjid mengundang setiap pewakilan dari mesjid di Daik Lingga, sanak keluarga yang tinggal di dusun atau kampung lain serta para laki-laki dari desa tetangga.

Dia melanjutkan, Kegiatan Maulid tersebut dimulai sejak pukul 07.10 WIB pagi sampai dengan selesai pukul 14.30 WIB Sore, dengan memanjatkan salawat Nabi secara berjamaah di Mesjid Al-Marhammah.

Keunikan lainnya dari kegiatan maulid Nabi di Desa Mepar dan beberapa Desa lainnya di Kabupaten Lingga yaitu pemberian berkat atau bingkisan dari pihak misjid berupa bunga telur kepada setiap warga yang menghadiri kegiatan di Mesjid tersebut.

Sementara itu, Kamran, salah satu pemerhati wisata dan budaya di Lingga, menilai konsep Maulid merupakan salah satu khas tradisi yang perlu dijaga dan diwariskan secara turun temurun.

“Selain mengandung nilai rekigius, Maulid juga mempunyai nilai wisata. Dalam hal ini, warga saling berkunjung dan bersilaturahmi satu sama lainnya. Disinilah letak nilai religius yang menjadi tonggak keberlangsungan hidup sesama,” terangnya.

Menurut hematnya, tabalan nama Bunda Tanah Melayu, mengandung unsur masyarakat yang sudah tercermin dalam silaturahmi antar warga.

Sehingga nama Bunda Tanah Melayu, sangat kental dengan prilaku yang tercermin dalam tradisi Maulid Nabi, Mandi Safar dan keciptaan masyarakat terhadap hidup rukun dan beragama, terangnya. (MC Kab Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *