Sekolah Jaman Sultan Sulaiman Tertua se-Kepulauan Riau

Diposting pada

SDN 001 Daik Lingga dibangun sejak tahun 1875. SDN 001 Daik Lingga merupakan Benda Cagar Budaya (BCB) Kabupaten Lingga. Foto-Hasbi

Lingga, MC – Sekilas, bangunan sekolah SD Negri 1 Lingga, yang terletak dijalan Encik Kasim, Kelurahan Daik terlihat biasa. Bangunan sekolah panggung tempat belajar-mengajar masih tetap digunakan. Namun di balik itu, sekolah yang juga masuk ke dalam Benda Cagar Budaya (BCB) ini, merupakan sekolah tertua yang pernah dibangun di kepulauan Riau.

Meski sudah berusia ratusan tahun, sekolah yang dibangun sejak jaman Kesultanan Lingga ini tak banyak yang berubah. Bentuk bangunan sekolah panggung tersebut tetap dipertahankan. 

Lazuardi, pemerhati sejarah Lingga mengatakan dari catatan yang ia dapat dari tetua di Lingga, bangunan sekolah SD Negri 001 yang ada saat ini tersebut dibangun pada tahun 1875 sejak zamak kesultanan Lingga. Dikatakannya sekolah arab itu, dibangun pada masa Sultan Sulaiman Badrull Alamsyah II, 1857-1883 Masehi.

“Dulu sekolah itu adalah sekolah arab. Pembelajarannya juga menggunakan tulisan arab melayu. Ada seorang guru besar, Kuril Sulaiman namanya, ia dari Minangkabau. Huruf-huruf arab melayu sebagai tujuk ajar kita dalam ilmu pengetahuan,” ungkap Lazuardi.

Jika melihat tahun pembangunan sekolah tersebut, diperkirakan sekolah SD 001 berusia 139 tahun. Bangunan sekolah tertua di kepulauan Riau ini dikatakan Lazuardi telah banyak melahirkan generasi berpendidikan di Lingga, yaitu dalam ilmu pengetahuan. Meski keruntuhan kerajaan Lingga pada 1911, sekolah ini tetap dimanfaatkan. Dikatakan Lazuardi lagi, sekolah arab tersebut kemudian berubah menjadi Sekolah Rakyat (SR).

“Kemudian sekolah berubah jadi sekolah rakyat, terdiri dari 4 kelas berbentu L terputus. Baru kemudian di ambil, alih Belanda. Belanda juga sempat memakai sekolah tersebut. Baru kemudian menjadi sekolah SD 044. Kemudian seiring kemerdekaan RI barulah sekolah tersebut menjadi SD 01, kemudian SD 001,” ungkap Lazuardi yang juga sempat bersekolah SD tersebut.

Pembelajaran menggunakan tulisan arab melayu ini dikatakan Lazuardi, membuat dunia penulisan di Lingga berkembang, hal ini  terlihat dari ditemukannya manuskrip maupun babat yang berhuruf arab melayu. Jadi tak heran, jika orang-orang melayu Lingga sudah mengenal tulisan sekalipun tidak berketurunan bangsawan. Berbeda dengan di Jawa, yang mana sekolah-sekolah dibangun hanya untuk kaum bangsawan dan orang-orang istana.

Dikatakan Lazuardi lagi, selain bangunan sekolah SD 001 yang bersejarah, dilokasi yang sama juga terdapat sebuah perigi yang dibangun sejak zaman sultan. Sampai saat ini, kondisi perigi tersebut masih dapat digunakan oleh warga sekitar. Bahkan saat kemaru, perigi tersebut tak pernah kering.

“Perigi juga dibangun, ia menjadi sumber air untuk warga  seluruh kawasan Daik, bahkan kemaru, perigi tak pernah kering. Diperigi juga terdapat tahun pembuatan dengan tulisan arab melayu,” ungkapnya.

Sementara itu, Ismail Ahmad salah seorang tokoh masyarakat Lingga yang juga mantan Lurah Daik mengatakan, dirinya juga bersekolah disana. Saat itu sekolah masih SR pada 1955. Dikatakannya, sampai saat ini bangunan tersebut memang dipertahankan bentuk aslinya. Yang berubah hanya bahan setelah di rehab dan juga warna tembok yang dicat kuning.

“Tahun 1955 saya sekolah disana, waktu itu masih SR. Kalau tidak salah, umur sekolah itu sudah 75 tahun waktu saya Sekolah. Bentuk sekolah tak ada yang berubah, cuma dulu di cat berwarna hitam,” tutur Ismail.

Semasa masih merupakan sekolah rakyat, kenang Ismail tak hanya orang-orang melayu yang bersekolah disana. Karena hanya satu-satunya sekolah, dikatakannya, baik warga keturunan cina maupun keling yang ada di Lingga, semua bersekolah disana. 

“Bukan hanya orang Daik, semua orang di Lingga skolah disini. Banyak yang jadi pengulu (Lurah) sekolah disini. Dulu semua mahir menulis arab melayu, masa itu bahkan orang-orang cinapun tulisan arab melayunya bagus-bagus,” jelas Ismail.

Sampai saat ini, kata Ismal sekolah arab yang kemudian lebih di kenal dengan SD 001 ini, masih terus digunakan untuk pendidikan. Meski banyak yang tidak mengetahui sejarah besar dbalik bangunan sekolah tersebut, jelas Ismail karena kurangnya informasi yang ada di Lingga membuat perlu agar sejarah dunia pendidikan di Lingga ini menjadi bagian sejarah yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, tutupnya. (Hasbi/MC Kab Lingga)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *