Belum Tercipta Sadar Wisata Pada Masyarakat

Diposting pada

Lingga, MC – Keindahan alam yang disajikan tuhan memang menjadi kebanggan dan tujuan wisata. Namun, tak elak, wisatawan mengabaikan kebersihan lingkungan yang disebabkan dari sampah plastik dari bekal makan dan minum. Hal ini, menjadi terbalik tempat bersantai yang nyaman berubah menjadi tumpukan sampah, Kamis (18/12).

Pemandangan sampah yang berserakan ini, terlihat jelas di Pantai Pasir Panjang setelah usai perayaan mandi syafar, tradisi orang melayu di Daik. Perayaan setahun sekali yang menyedot kunjungan hingga 7000 orang tersebut, tak elak menyisakan sampah botol plastik berserakan dimana-mana. 

Adit salah seorang pengunjung mengatakan, selain datang dalam perayaan mandi syafar di pantai Pasir Panjang dan mengikuti rangkaian kegiatan yang digelar Disbudpar Lingga bekerjasama dengan pemuda dusun Malar desa Mepar mengatakan, pemanfaatan ruang alam yang sudah ditata dengan gazebo untuk bersantai sudah cukup memadai. Namun, berserakan sampah palstik tersebut, menurutnya perlu ada himbauan dan juga kesadaran wisata yang ditanakan dari kegiatan tersebut.

“Seharusnya, dengan adanyanya kegiatan budaya ini, nilai-nialai kemelayuan itu timbul. Tradisi bersyafar itu  berwisata. Namun bukan mengotori objek wisata, sayangnya kegiatan ini tidak menyuarakan hal-hal tersebut,” ungkap Adit.

Sehingga tanpa disadari, kesadaran yang harusnya mulai timbul dan dirasakan karena orang melayu Daik setiap tahun berwisata atau mandi syafar, dapat menjaga alam dengan nilai-nilai positif. Maksud Adit, menanamkan dalam diri masing-masing agar ringan tangan membuang sampah ke tempat sampah.

“Sebenarnya simpel, tapi melakukannya susah. Memang disini, saya lihat tong sampah dan himbauan yang ada sangat minim. Untuk pihak pengelola kan tak mesti setiap habis acara harus pungut sampah dipantai yang hampir 2 kilometer ini. Sebab, di Lingga tak hanya satu objek wisata, kalau semuanya dikotori, siapa yang mau pungut,” katanya.

Meskipun ada panitia kebersihan, namun bukan berarti pula wisatawan maupun pengunjung yang datang boleh seenaknya membuang sampah. Sadar wisata harus digalakkan, baik penyelenggara maupun pengelola. Agar kedepannya, rasa memiliki dan menjaga apa yang diberikan Tuhan dapat dimaknai dengan hal-hal kecil yang jelas bermanfaat banyak dimasa depan. (Hasbi/MC Kab Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *