Pemerintah Harus Fasilitasi Pelabuhan Wisata

Diposting pada

Lingga, MC – Kabupaten Lingga harus berbangga hati, pasalnya pemerintah pusat sudah mulai melirik potensi kelautan di Lingga. Hal ini jelas dari even perdana Wonderful Sail To Indonesia (WSTI) 2014 yang dilaksanakan Kementrian Pariwisata selama sembilan hari memilih 4 titik labuh jangkar dari 22 titik pelayaran yang akan membelah dari timur ke barat kepulauan Indonesia.

Disampaikan Raymond, perwakilan Kementrian Pariwisata yang hadir dalam kegiatan tersebut ke Lingga, Indonesia sebagai negara kepulauan, terbesar di dunia, yang juga bahari dan memiliki track pelayaran terpanjang di dunia, mengharapkan agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai ajang promosi untuk memajukan daerahnya.

Untuk di kabupaten Lingga, disampaikan Raymond awalnya ada 5 titik labuh jangkar. Namun karena pemerintah provinsi meminta satu, labuh jangkar di Lingga kemudian dilaksanakan di empat tempat yakni di Pulau Selayar, Mepar, Daik dan terakhir di pulau Benan. Kemudian peserta (WSTI) melanjutkan lagi ke Bintan pada 17 November mendatang.

Disampaikan Raymond dari kegiatan perdananya ini, banyak yang menjadi catatan untuk pemerintah kabupaten Lingga. Hal pertama yang dikatakan Raymond pemerintah dalam menangkap peluang ini haruslah berupaya menyiapkan infrastruktur pelabuhan wisata. Selain itu, pelatihan maupun sosialisasi kepada masyarakat agar sadar wisata yang mampu memberikan kesan nyaman dan keramahtamahan juga perlu di siapkan guide-guide agar pelancong mudah mendapatkan informasi lokal.

“Tapi yang penting bukan pesta, yang harus kita tahu mereka (peserta sail) di air kita di darat.  Pemerintah dalam hal ini harus merekaap apa yang menjadi kebutuhan. Manfaatkanlah kegiatan ini sebagai ajang promosi. Sehingga mereka merasa Indonesia beda, baik Seni, Budaya dan juga kearifan lokal,” ungkap Raymond, pria kelahiran Bali berambut putih ini, Kamis (12/11).

Terkait penyambutan yang dilakukan pemerintah kabupaten Lingga, Rabu (12/11) lalu, hal tersebut masih dimaklumi Raymond. Pasalnya dengan kegiatan pesta seperti itu, menurut Raymond yang mahir dalam bidang kepariwisataan bukan menjadi daya tarik. Pemerintah dikatakan Raymond dalam hal ini cukup memfasilitasi dan menyediakan infrastruktur di laut. Sedangkan pelaksanaannya harus diserahkan kepada masyarakat secara langsung.

Menurutnya, pada saat peserta WSTI labuh jangkar di Selayar, Penuba beberapa waktu lalu yang mana kegiatan dikelola 80 persen oleh masyarakat sangat menarik. Disampaikannya wisatawan selain berkunjung dan melihat kehidupan juga keindahan kepulauan pesisir disana juga berbelanja dan ikut aktifitas masyarakat menjaring ikan. Hal seperti itulah yang menjadi daya tarik wisata menurut Raymond.

Namun seringkali, pemerintah daerah salah kaprah dalam menservis wisatawan, terlebih pada kegiatan cerimonial yang malah memakan banyak biaya. Padahal yang diinginkan wisatawan bukanlah hal tersebut. “Sebenarnya semakin ramah pejabat dan pemerintah daerah, semakin ramah masyarakatnya semakin senang wisatawan. Yang jelas bukan pesta,” tegasnya.

Untuk itu, menurut Raymon kedepan karena kegiatan WSTI akan terus berlanjut, dimana Lingga sudah memiliki 18 titik labuh jangkar yang layak, agar pemerintah daerah sigap memanfaatkan investasi pelayaran ini sebagai ajang promosi daerah. Serta menyiapkan fasilitas dan membangun sadar wisata dan guide-guide wisata dari masyarakat agar mampu mengelola investasi pelayaran tersebut.

“Kedepan pemerintah bisa merealisasikan pelabuhan pariwisata, sehingga menjadi rujukan nasional. Untuk memotifasi, daerah untuk berkembang. Mereka datang berbelanja, mereka mempromosikan. Saya maunya kegiatan dilepaskan ke masyarakat, pemerintah cukup memfasilitasi saja. Kegiatan ini lebih efektif daripada melakukan investasi sendiri,” tutupnya (Hasbi/MC Kab. Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *