Meski Diguyur Hujan Idul Adha Tetap Meriah

Diposting pada

Lingga, MC – Meskipun hujan terus mengguyur hampir seluruh wilayah di Kabupaten Lingga, namun Masyarakat tetap merayakan idul adha seperti biasa. Ibadah shalat Ied dan pemotongan hewan kurban di Mesjid dan Surau berjalan sesuai agenda, Minggu (5/10).

 Hujan yang turun sejak malam hingga siang hari tersebut membuat rumah sebagian warga yang tinggal di pinggiran sungai Daik, tergenang air. meskipun begitu, tidak mengganggu perayaan Idul adha mereka.

Siti, salah satu warga kampung Mentok Kelurahan Daik yang rumahnya ikut tergenang air mengatakan, banjir kerap terjadi saat hujan panjang. Namun hal itu tidak mengganggu dirinya dan warga sekitar sungai untuk merayakan Idul adha.

“Kalau hujannya panjang pasti akan banjir, warga disini sudah tau dan sudah antisipasi, meskipun kondisinya banjir, kita tetap mensyukuri dan merayakan Idul Adha seperti biasa,”ungkapnya.

Pantauan di lapangan, Mesjid Kampung Gelam Kelurahan Daik, melaksanakan shalat Ied pukul 07.00 WIB pagi, dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban pukul 11.00 WIB. Untuk jumlah hewan yang di kurban sebanyak dua ekor lembu, ditambah tiga ekor kambing.

Menurut Ian, panitia kurban di surau kampung gelam mengatakan, jumlah daging bersih dari dua ekor sapi sebanyak 154 kilogram. Daging tersebut rencananya akan dibagikan untuk 83 orang warga di sekitar surau. Untuk jumlah anggota panitia kurban hampir 20 orang yang merupakan warga Kampung Gelam.

Di tempat lain, surau Baitul ridho kampung tande kelurahan Daik juga melaksanakan shalat Ied pada jam yang sama. Sedang untuk jumlah hewan kurban sebanyak empat ekor lembu. Seluruh warga turut berpartisipasi menjadi panitia kurban.

Di surau ini, Sebagian Ibu perwiritan memasak makanan dilokasi pemotongan hewan kurban untuk makan para panitia.

H Masnun Hasan, pengurus surau Baitul Ridho mengatakan, kegiatan gotong-royong oleh masyarakat Kampung Tande saat pemotongan hewan kurban, sudah berlangsung sejak dulu. Jadi pengurus mesjid tidak menunjuk beberapa dari warga untuk menjadi panitia, biasanya mereka yang datang dan turut serta berpartisipasi.

“Kami tidak membentuk dan menunjuk para warga untuk menjadi panitia,mereka datang dan ingin ikut bepartisipasi. Rasa peduli dan memiliki warga disini cukup besar,” ungkapnya. (MC Kab. Lingga)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *