Masyarakat Lingga Pertahankan Tradisi 7 Likuran

Diposting pada

Lingga. MC – Ramaikan hari 7 likuran, masyarakat di Kabupaten Lingga hiasi halaman rumah, gerbang dan jalanan dengan lampu minyak tanah, Kamis (24/7). Tradisi yang bertahan sejak turun temurun di daerah Lingga tersebut mendapat dukungan dari pemerintah Kabupaten Lingga.

 

Seperti yang dikatakan Junaidi Adzam, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lingga, Tradisi 7 Likur merupakan tradisi masyarakat Melayu di Kepri, khususnya di Kabupaten Lingga yang tetap disambut secara meriah oleh masyarakat.

“7 Likur itu berarti malam ke 27 bulan ramadhan. Dan ditandai dengan dibangunnya gerbang ditiap batas kampung atau desa. Pada gerbang tersebut terdapat ukiran mirip gerbang mesjid. Selain dihiasi banyak lentera, biasanya warga menyediakan makanan dan minuman khas untuk memyambut tamu yang datang ke kampung mereka,” ucapnya.

Junaidi Katakan, dalam upaya pelestarian tradisi 7 Likur, Dinas kebudayaan dan Pariwisata mengucurkan sejumlah dana bagi 9 kecamatan di Kabupaten Lingga. Dana tersebut diperuntukan bagi pembangunan peningkatan gerbang di masing-masing kecamatan.

Untuk jumlah gerbang 7 Likur, dia katakan, Kecamatan Selayar berjumlah 13 pintu gerbang, Kecamatan Singkep 6 gerbang, Kecamatan Singkep Pesisir 8 gerbang, Kecamatan Lingga Timur sekitar 9 gerbang, Kecamatan Singkep Barat dua gerbang dan Kecamatan Singkep Selatan 11 gerbang. Termasuk di Kecamatan Lingga terdapat gerbang yang sekaligus Ibu Kota Kabupaten Lingga. Namun yang belum masuk datanya Kecamatan Senayang dan Lingga Utara.

Dikarenakan merupakan dana bantuan, maka kata Junaidi dikerjakan masing-masing kecamatan berbentuk swadaya. ” Dari awal mereka kerjakan dulu, baru kita bantu,” jelasnya.

Usaha pelestarian 7 likuran yang dilakukan Disbudpar terbukti efektif. Hal ini dituunjukkan melalui antusias warga yang memadati jalanan raya dan beberapa tempat dibangunnya gerbang dimalam 7 likuran. 

Nurul, salah seorang warga yang ikut menikmati kemeriahan 7 likuran di ibukota Kabupaten tersebut mengatakan, tradisi seperti ini hendaknya dapat terus menerus bertahan, sehingga dapat juga dinikmati dan dijaga oleh generasi berikutnya, (MC Kab. Lingga).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *