Lingga, Puncak Tamadun Melayu

Diposting pada

LINGGA (HK)- Buah kepemimpinan Sultan Mahmud Riayat Syah telah melahirkan karya-karya besar dan agung, salah satunya adalah tardisi menulis dan karya sastra. Yang mana lahir dari seorang Raja Ali Haji di Penyengat anaknya Raja Ahmad. Secara histori, dua nama itu lahir diera ke-Sultanan Mahmud Riayat Syah yang bermukim di Lingga, telah mencapai Puncak Tamadun Melayu di Lingga.

Merunut sejarah tentang hubungan historis Sultan Mahmud Riayat Syah  membangun Tamadun, yakni adapun pada waktu itu Penyengat  berada dibawah pemerintahan Sultan Mahmud, menugaskan  membangun pusat pemerintahan dan pusat budaya di Penyengat, yang menjadi pelaksana harian kepemeritahannya adalah Yang Dipertuan Agung Raja Ja’far atas perintah Raja Sultan Mahmud.

Merunut pandangan tokoh masyarakat yang berasal dari Kabupaten Lingga, Nyat Kadir, menuturkan bahwa yang  Di Pertuan Muda pertuan muda jadi pelaksana pemerintahan harian di Penyengat, sehingga di sana berkembang tradisi menulis, ketika itu di bangun. Penyengat dijadikan sebagai mas kawin, melalui yang Dipertuan Muda Raja Jakfar atas perintah Raja sultan Mahmud, mengembangkan pusat budaya, maka berkembanglah berbagai tardisi tradisi seperti tarian-tariannya yang  spektakuler, serta melahirkan banyak penulis-penulis yang dimulai oleh Raja Ahmad, ayahnya Raja Ali Haji yang dikenal seantero nusantara dan internasional.

Di mana Raja Ahmad  yang membina, mulai dari tradisi menulis ini diteruskan oleh anaknya,  Raja Ali Haji, yang telah melahirkan banyak pengetahuan-pengetahuan fenomental, seperti Kitab Pengetahuan Bangsa, pengetahuan bahasa melayu, serta pengatahuan tata bahasa dari fonologi, morfologi, serta puncaknya melahirkan bahasa melayu itu jadi bahasa Indonesia.

“Bukti bukti itu hanya ditemui di Kepulauan Riau, baik itu tata bahasa, kosa kata bahasa, disitu bukti bahwa, penataan bahasa melayu dimulai dari sana, di Kepri munculnya. Itu merupakan  wahana dari kepeminmpinan Sultan Mahmud Riayat Syah yang bermukim disni di Lingga. Sementara  Yang Dipertuan Muda, di Penyengat, dipertuan muda ini menjalankan pemerintahan,” imbuhnya, Jumat (22/11).

Dengan demikian, Nyat menegaskan bahwa nilai historis  di Lingga yang harus dimunculkan sebagai pusat kesultanan Melayu dimulai dari Lingga ini Puncak Tamadunnya, karena di  masa itu Kerajaan Lingga Riau, waktu masih Johor Pahang Riau Lingga belum muncul.

Dikatakan Tamadun, lanjut Nyat Kadir,  puncak Tamadun itu adalah diantaranya prilaku masyarakat sudah terbentuk, serta yang tidak ternilai itu adalah karya-karya sastra.

Puncak Tamadun tersebut, kata Nyat Kadir, adanya pada masa itu percetakan, lalu lahirlah karya sastra asal muasal Melayu. Di namakan demikian, Tamadun itu  tidak mudah suatu kelompok kesultanan ini diakui sebagai Tamadun. Namun dibidang bahasa yang telah menjadikan bahasa melayu diakui sebagai bahasa nasional Indonesia dan menjadi  milik bersama masyarakat Indonesia, mulai dari bahasa melayu biasa menjadi melayu tinggi, maka itulah dibangun monumen bahasa di Penyengat.

“Pusat era tamadun ini pusatnya di sini, di Lingga Sultan Mahmud Riayat Syah menetap di sini. Artinya Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu pusat kandungan puncak tamadun melayu,” ungkapnya.

Menurutnya, tidaklah mudah untuk melahirkan Puncak Tamadun Melayu tersebut. Bahkan semua orang bisa mengakatakan kalau asal muasal bangsa adalah melayu, kalau Bunda Tanah Melayu itu tidak ada duanya, karena Puncak Tamadun yang dimaksud adalah tingkah laku, tata cara perkawinan,  cara berbahasa lisan,  sert aprilaku masyarakat yang menghindari konflik, maka Bunda Tanah Melayu telah melahirkan itu. Bukan sebagai bangsa yang suka berperang, terangnya.

Dikatakannya, keterhubungan historis atau sejarah Kesultanan Mahmud Riayat Syah yang dieranya telah melahirkan puncak Tamadun dengan karya sastra dan menelurkan bahasa melayu yang telah dipergunakan oleh 200 juta orang dinusantara dengan Bunda Tanah Melayu tersebut, maka Bunda Tanah Melayu pantas di gelarkan kepada Lingga, karena prilaku Tamadun tersebut dapat dilihat di Lingga. Baik itu cara berbahasa, keamanan, serta karya satra.

Namun demikian, dalam mengahadapi era globalisasi dan laju kemajuan teknologi dan informasi, Nyat Kadir, berpendapat bahwa Bunda Tanah Melayu harus mempersiapkan diri melalui sains dan teknologi. Walau saja masa dahlu itu, sains dan  teknologi masih rendah, seperti mesin cetak.

“Secara kekinian perlu museum, pustakaan itu yang modern, serta harus  ada universitas di sini,  minimal institut, karen  itu mencirikan kemajuan budaya,” pungkasnya.

Sementara itu, Masyalikul AKhyar salah satu anggota BP2KL, dan anggota DPRD Kabupaten Lingga menuturkan secara  aspek sejarah, budaya, kemaritiman, dan Lingga ada pertambangan sejak zaman kerajaan dulu, itu semua menjadi potensi untuk  diangkat dan dimunculkan sebagai daya tarik.

“Artinya muatan budaya yang menjadi spirit, sebuah kerajaan besar, induk melayunya, mempunyai kekuatan besar, itulah potensi yang ada untuk dimunculkan,” ungkapnya.

Melihat kondisi saat sekarang  ini, lanjut Masyalikul, pemerintah Kabupaten Lingga, sudah sepatutnya Lingga membentuk benda atau memeunculkan simbol benda kebudayaan seperti miniatur benda kebudayaan yang ada di Kabupaten Lingga, salah satunya adalah simbol keris, karena selama ini belum ada.
“Maka ini menjadi program daerah, untuk mendirikan benda kebudayaan tersebut, keris, tepak sirih, tanjak, dan sebagainya yang mencirikan karkater melayu,” ungkapnya.

Terkait adanya simbol meriam yang ada di bundaran di samping lapangan Hang Tuah, yaitu terdapatnya miniatur Simbol meriam, pakah itu termasuk khas melayu, AKhayar tidak berani menyebutkan kalau benda  itu mencirikan melayu. Namun menurutnya  itu hanya suatu bentuk untuk memelihara nilai sejarah, bahwa memang meriam itu pernah ada di Lingga.

Menurutnya, yang perlu dibangun di Bunda Tanah Melayu itu, baik manusia, maupun bukan manusia. Namun, bukan berarti hal itu tidak memakan proses, yang panjang, tapi  harus diperbuat sekarang.

” Harus ada inventaris bentuk, apakah keris, atau tugu kersi bersama tepak sirihnya, atau membentuk ciri khas bangunan melayu, seperti itu yang bisa di jawab,” ungkapnya.

Diitempat yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Lingga, M Ishak, menuturkan banyak khas melayu, baik ituarsitektur. Namun yang terpenting adalah prilaku pemimpin dan orang  orang untuk melestarikan budaya, melayu.

“Nanti dituangkan dalam program, dipertajamkan dulu, yang penting komitmen pemimpin, bukan hanya bupati, sekarang ini, masih belum banyak yang suka melestarikan budaya,” ungkapnya.

Ditempat yang berbeda, pada malam Syukuran Hari Jadi Kabupaten Lingga yang Ke-10 di lapangan Hang Tuah, ketua BP2KL Rida K Liamsi yang turut memperjuangkan Kabupaten Lingga, mengatakan tidak ada yang mustahil dengan mimpi, terutama dalam mewujudkan Bunda Tanah Melayu,  

“Marilah kita bersama-sama, mewujudkan tekad kita, sesuai visi,  Lingga sebagai Bunda Tanah Melayu, sehingga bisa menikmati apa yang dirasakan saat ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, dalam mewujudkan visi dan misi Bunda Tanah Melayu tersebut tidak terlepas dari pemimpin-pemimpin yang ada di Kabupaten Lingga dalam mengawal dan menjaga citacita BUnda Tanah Melayu, jelasnya. (put)
Sumber : Haluan Kepri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *